TUGAS
DASAR-DASAR PERLINDUNGAN TANAMAN
“PENYAKIT
TANAMAN YANG DISEBABKAN OLEH
JAMUR, VIRUS DAN BAKTERI”
ERNA
D1A113008
AGRIBISNIS
A
JURUSAN
AGRIBISNIS
FAKULTAS
PERTANIAN
UNIVERSITAS
HALU OLEO
KENDARI
2015
A.
Penyakit
Yang Disebabkan Oleh Jamur
1.
Penyakit
Bercak Ungu Pada Bawang Putih
Ø Penyakit
bercak ungu pada bawang putih disebabkan oleh jamur Alternaria porri.
Ø Bawang
putih yang terkena penyakit bercak ungu menunjukkan gejala-gejala, yaitu pada
daunnya tampak bercak kecil, melekuk berwarna putih hingga kelabu. Jika
ukurannya membesar, bercak terlihat bercincin-cincin dan warnanya agak
keunguan. Tepi bercak berwarna kemerahan atau keunguan, dikelilingi oleh warna
kuning yang bisa meluas ke atas atau ke bawah. Pada cuaca lembab permukaan
bercak berwarna coklat sampai hitam. Ujung daun yang sakit mengering, bercak
lebih banyak pada daun tua. Bisa menginfeksi sampai umbi lapis yang mengalami
pembusukan mulai leher, dan mudah dikenali dari warnanya kuning sampai merah
kecoklatan.
Ø Pengendalian
terhadap penyakit bercak ungu pada bawang putih dapat dilakukan dengan cara
menanam bawang putih pada lahan yang mempunyai saluran air baik, melakukan
rotasi tanaman, dan melakukan penyemprotan fungisida. Serta pemupukan berimbang misal penyemprotan Poc Nasa dan Hormonik, sebagai pencegahan sebelum tanam
pakai Natural Glio,
penyemprotan fungisida tembaga dan zineb dianjurkan jika populasi diatas ambang
ekonomi dan lebih bagus ditambah perekat-perata-pembasah Aero 810 agar dapat membasahi
daun bawang yang berlilin.
2.
Penyakit
Akar Gada Kubis
Ø Penyakit
akar gada disebabkan oleh jamur Plasmodiophora
brassica.
Ø Tanaman
yang masih muda mungkin tidak menunjukkan gejala yang berarti saat terserang,
namun ketika tanaman semakin dewasa akan mulai menunjukkan gejala klorosis atau
menguning, layu selama hari-hari panas, dan pertumbuhan terhambat. Meskipun
begitu, gejala-gejala ini terkadang sedikit berbeda di antara jenis tanaman
yang berbeda. Jika terdapat tanaman layu pada hari-hari kering/panas dan pulih
kembali di pagi hari atau setelah matahari turun atau suhu dingin, itulah
pertanda awal serangan akar gada. Jika penyakit terus berlangsung, daun akan
menguning dan akhirnya mati. Tanaman yang sakit jelas terhambat pertumbuhannya
dibandingkan tanaman yang tidak terinfeksi. Tanaman yang sakit biasanya berada
di daerah yang lembap atau basah. Ketika digali, akar menunjukkan berbagai
gejala tak lazim, infeksi yang baru akan menyebabkan simpul kecil pada akar,
sedangkan infeksi lebih lanjut menyebabkan bengkak panjang pada akar primer
maupun lateral. Beberapa jenis tanaman, seperti lobak, tidak membentuk bengkak
ketika terinfeksi, melainkan luka atau lesi cekung hitam di sepanjang permukaan
akar.
Ø Pengendalian
terhadap penyakit akar gada kubis dapat dilakukan dengan cara sebagai berikut :
a. Teliti mendapatkan benih.
Hindari membeli dan menanam benih yang diduga sudah terinfeksi Plasmodiophora brassicae. Perhatikan jenis tanah. Penggunaan
tanah berpasir akan lebih aman dari kemungkinan berkembangbiaknya patogen.
b. Menjaga pH tanah agar sedikit basa (sekitar 7,1 –
7,2).
Patogen Plasmodiophora berkembang pada tanah asam oleh karena itu perlu
menaikkan pH tanah sehingga menjadi sedikit basa, misalnya dengan
menambahkan kapur pertanian atau Kalsium (dengan takaran yang yang tepat) untuk
menghambat perkembangan patogen.
c. Kurangi pemberian pupuk kimia,
terutama yang mengandung Nitrogen (seperti NPK, ZA, Urea, KNO3). Pupuk tersebut
menyebabkan tanah semakin asam, dan bahkan melemahkan daya tahan tanaman karena
tanaman menjadi terlalu banyak mengandung gas.
d. Lakukan rotasi tanaman mengurangi
berkembangnya patogen di lahan yang sudah terinfeksi.
3.
Penyakit
Akar Putih Pada Tanaman Karet
Ø Penyebabnya
adalah cendawan yang bernaman Rigidoporus
lignosus. Cendawan ini menyerang tanamann karet.
Ø Gejala
yang bisa diamati adalah tanaman yang terserang warna daunnya menjadi pucat,
ranting-ranting ujungnya mati, dan kadang-kadang tanaman muda yang teserang
berbunga lebih awal. Akar tanaman yang terserang terdapat hifa cendawan yang
berwarna putih. Penularan penyakit akar putih terjadi melalui persinggungan
antara akar karet dengan sisa-sisa akar tanaman lama.
Ø Berdasarkan
Disbun Kuansing (2010) beberapa cara yang dapat dilakukan dalam pengendalian
jamur akar putih diantaranya yaitu:
a. Menanam
tanaman penutup tanah jenis kacang-kacangan, minimal satu tahun lebih awal dari
penanaman karet.
b. Sebelum
penanaman, lubang tanam ditaburi biakan jamur Trichoderma harzianum yang
dicampur dengan kompos sebanyak 200 gr/lubang tanam (1 kg T. Harzianum dicampur
dengan 50 kg kompos/pupuk kandang).
Sementara itu untuk
pengendalian pada areal yang sudah terserang jamur akar putih dapat dilakukan
dengan cara:
a. Pada
serangan ringan masih dapat diselamatkkan dengan cara membuka perakaran, dengan
membuat lubang tanam 30 cm disekitar leher akar dengan kedalaman sesuai
serangan jamur.
b. Permukaan
akar yang ditumbuhi jamur dikerok dengan alat yang tidak melukai akar. Bagian
akar yang busuk dipotong dan dibakar. Bekas kerokan dan potongan diberi ter
kemudian seluruh permukaan akar dioles dengan fungisida yang direkomendasikan.
c. Setelah
luka mengering, seluruh perakaran ditutup kembali dengan tanah.
d. Tempat
tanaman di sekitar tanaman yang sakit ditaburi dengan T. Harzianum dan pupuk.
e. Tanaman
yang telah diobati diperiksa kembali 6 bulan setelah pengolesan dengan membuka
perakaran, apabila masih terdapat benang jamur maka dikerok dan dioles dengan
fungisida kembali.
f. Pengolesan
dan penyiraman akar dengan fungsida dilakukan setiap 6 bulan sampai tanaman
sehat.
g. Tanaman
yang terserang berat atau telah mati/tumbang harus segera dibongkar, bagian
pangkal batang dan akarnya dikubur diluar areal pertanaman, menggunakan wadah
agar tanah yang terikut tidak tercecer di dalam kebun.
h. Bekas
lubang dan 4 tanaman di sekitarnya ditaburi 200 gram campuran Trichoderma sp.
dengan pupuk kandang 200 gr per lubang atau tanaman.
B.
Penyakit
Yang Disebabkan Oleh Virus
1.
Penyakit
Tungro Pada Tanaman Padi
Ø Penyakit
tungro disebabkan oleh virus Penyakit tungro disebabkan oleh dua jenis virus
yang berbeda yaitu virus bentuk batang Rice Tungro Bacilliform Virus (RTBV) dan
virus bentuk bulat Rice Tungro Spherical Virus (RTSV). Kedua jenis virus
tersebut tidak memiliki kekerabatan serologi dan dapat menginfeksi tanaman
secara bersama-sama. Virus tungro hanya ditularkan oleh wereng hijau (sebagai
vektor) tidak terjadi multiplikasi dalam tubuh wereng dan tidak terbawa pada
keturunananya.
Ø Penyakit
tungro menyerang tanaman padi tepatnya pada bagian daun padi. Intensitas
serangan bergantung pada tingkat ketahanan varietas padi dan umur tanaman pada
saat terinfeksi. Gejala-gejala yang tampak secara morfologis tanaman padi yang
tertular virus tungro menjadi kerdil, daun berwarna kuning sampai kuning jingga
disertai bercak-bercak berwarna coklat. Perubahan warna daun di mulai dari
ujung, meluas ke bagian pangkal. Jumlah anakan sedikit dan sebagian besar gabah
hampa. Infeksi virus tungro juga menurunkan jumlah malai per rumpun, malai
pendek sehingga jumlah gabah per malai rendah. Serangan yang terjadi pada
tanaman yang telah mengeluarkan malai umumnya tidak menimbulkan kerusakan
fatal.Gejala penyakit tersebar mengelompok, hamparan tanaman padi terlihat
seperti bergelombang karena adanya perbedaan tinggi tanaman antara tanaman
sehat dan yang terinfeksi.
Ø Pengendalian
dapat dilakukan dengan berbagai cara berikut :
a. Waktu
tanam tepat Singgang merupakan sumber inokulum virus tungro. Agar terhindar
dari infeksi virus yang berasal dari singgang, maka persemaian dilakukan paling
tidak 5 (lima) hari setelah pengolahan tanah selesai dan tidak ada lagi
singgang. Tanam diupayakan seawal mungkin sehingga pada saat populasi wereng
hijau mencapai puncak, tanaman padi sudah berumur > 60 hst dan lebih tahan
tungro. Waktu tanam yang tepat dapat ditentukan dengan memperhatikan fluktuasi
populasi wereng daun hijau dan keberadaan tungro tahunan. Waktu tanam yang
tepat adalah saat tanam yang dapat menghindarkan tanaman pada saat fase rentan
(≤ 30 hst) tidak bertepatan dengan tekanan tungro tinggi (populasi wereng hijau
dan keberadaan gejala tungro tinggi).
b. Bibit
sehat, jangan memindahkan/menggunakan bibit dari daerah endemis tungro.
c. Tanam
serentak, untuk membatasi keberadaan umur tanaman yang rentan terhadap
perkembangan dan penularan virus tungro dilakukan upaya tanam serentak pada
hamparan seluas-luasnya/unit hamparan pengairan.
d. Melakukan
pergiliran tanaman dengan tanaman bukan padi/bukan inang virus tungro.
e. Penggunaan
varietas tahan sesuai dengan keadaan setempat. Varietas tahan virus tungro:
Tukad Petanu, Tukad Unda, Tukad Balian, Kalimas, dan Bondoyudo, serta varietas
agak tahan virus tungro seperti Inpari 8 dan Inpari 9.
f. Pergiliran
varietas tahan, penanaman varietas tahan yang sama secara terus menerus di
areal yang luas akan memberikan tekanan seleksi yang tinggi bagi vektor dan
virus. Hal ini akan memunculkan strain/koloni baru yang dapat mematahkan
varietas tahan. Wereng hijau dikenal cepat beradaptasi terhadap varietas tahan,
dengan demikian pergiliran varietas dapat mencegah atau menunda munculnya
strain/koloni baru.
g. Sanitasi
dan eradikasi. Eradikasi dilakukan dengan cara pengolahan tanah dan pembenaman
sumber tungro, untuk menghilangkan atau menekan jumlah sumber tungro dan
sekaligus menekan terjadinya penularan virus tungro lebih lanjut. Sanitasi
dilakukan dengan cara mencabut dan membenamkan tanaman terserang,
turiang/singgang dan rumput yang menjadi inang.
h. Pengendalian
vektor di daerah endemis tungro dengan aplikasi insektisida butiran 6 kg/500 m2
sehari sebelum sebar benih. Apabila diperlukan di pertanaman dilakukan aplikasi
insektisida sehari sebelum tanam dengan dosis sesuai anjuran. Aplikasi
insektisida di persemaian dapat juga dilakukan apabila nilai indeks tekanan
tungro > 75, dan pada pertanaman apabila saat berumur <3 mst ditemukan 2
rumpun tanaman terserang tungro per 100 rumpun, disamping terus dilakukan
sanitasi terhadap tanaman sakit.
2.
Penyakit
Degenerasi Floem Pada Tanaman
Jeruk
Ø Penyebab
penyakit degenerasi floem pada tanaman jeruk adalah virus CVPD (Citrus Vein
Phloem Degeneration). Virus ini menginfeksi bagian batang, daun, dan buah.
Ø Gejala
luar yang tampak, daun menjadi kuning pada sebagian atau seluruh tajuk. Daun
kuning ini kelihatan lebih kaku dan berdiri tegak. Tulang daun yang halus
berwarna gelap, sehingga kontras dengan lamina daun yang berwarna kuning.
Gejala luar ini mirip dengan gejala defisiensi hara Zn. Gejala dalam yaitu
Jaringan floem tampak lebih tebal, karena adanya pengempisan pembuluh tapis
dalam floem tersebut, yaitu berupa jalur-jalur putih. Bila diberi pewarna KI
(Kalum Iodida) akan terlihat adanya akumulasi.
Ø Pengendalian
dapat dilakukan dengan menerapkan hal-hal berikut :
a. Bibit
Berlabel Bebas Penyakit
b. Pengendalian
Vektor CVPD :
c. Sanitasi
/ Eradikasi diantaranya :
d. Pemeliharaan
/ Perawatan Tanaman Secara Optimal, diantaranya :
3. Penyakit Mosaik Pada Tanaman
Tembakau
Ø Penyakit
mosaic disebabkan oleh pathogen Tobacco
Mosaic Virus (TMV). TMV mudah sekali menular secara mekanik dengan kontak
(sentuhan) melalui tangan para pekerja yang melakukan kegiatan budidaya
tanaman. Virus dapat bertahan pada tembakau kering, dalam tanah, dan pada
tanaman lain selain tembakau (misalnya pada tomat, terung, cabai, dll.)
Ø Gejala
yang tampak pada tanaman yang terserang TMV yaitu daun tanaman yang terserang
menjadi berwarna belang hijau muda sampai hijau tua. Ukuran daun relatif lebih
kecil dibandingkan dengan ukuran daun normal. Jika menyerang tanaman muda,
pertumbuhan tanaman terhambat dan akhirnya kerdil. Gejala yang timbul sangat
dipengaruhi oleh suhu, penyinaran, umur tanaman, kultivar/varietas tanaman,
serta strain virus. Secara umum gejala yang timbul dapat dikelompokkan :
a. Gejala
mosaik dan mottle pada daun (pada musim panas di rumah kaca) warna belang
bercampur lebih dari satu warna. Mosaik pada daun biasanya berwarna pucat atau
kekuning-kuningan yang menyebar berupa percikan-percikan. Pada kondisi
intensitas rendah dan suhu rendah terjadi gejala kerdil dan malformasi daun
(fern-leaf) dimana adanya perubahan bentuk menjadi tidak sempurna atau tidak
normal pada daun dan buah.
b. Gejala
klorosis berupa warna pucat, baik pucat yang menyeluruh maupun hanya berupa
bercak saja
c. Gejala
vein-clearing : warna pucat pada urat daun sehingga urat daun kelihatan
transparan dan berkilau diantara warna daun yang hijau.
d. Gejala
nekrotik : kematian jaringan, biasanya terjadi pada urat daun, batang berupa
garis-garis coklat, bercak pada daun atau bercak cekung nekrotik pada buah, dan
kematian pada titik tumbuh.
Ø Beberapa
cara pengendalian penyakit mosaik antara lain :
Menggunakan bibit
tanaman yang sehat (tidak mengandung virus) atau bukan berasal dari daerah
terserang,
a. Eradikasi
tanaman sakit, yaitu tanaman yang menunjukkan gejala segera dicabut dan
dimusnahkan supaya tidak menjadi sumber penularan ke tanaman lain yang sehat,
b. Penanganan
bibit secara hati-hati agar tidak bersentuhan satu sama lain,
c. Menghindari
menanam tomat pada lahan yang sama untuk jangka waktu minimum 7 bulan,
d. Benih
dapat dibebaskan dari kontaminasi virus dengan cara merendam benih dalam
larutan 10 % (w/v), Na3 PO4 selama 20 menit,
e. Perlakuan
benih dengan pemanasan (heat treatment) pada suhu 70o C selama 2 – 4 hari dapat
mengeradikasi virus yang terbawa dalam endosperm.
C.
Penyakit
Yang Disebabkan Oleh Bakteri
1.
Layu
Bakteri Pada Tanaman Cabai
Ø Penyakit
layu bakteri pada tanaman cabai disebabkan oleh bakteri Ralstonia
solanacearum. Serangan penyakit ini ditandai dengan layunya tanaman seperti
bekas tersiram air panas. Penyakit ini
mempunyai kisaran inang yang luas seperti inang utamanya Solanaceae, Musaceae,
Kentang, Zingeberaceae, dan Arbei.
Ø Gejala
penyakit layu bakteri adalah sebagai berikut :
a. Tanaman
yang terserang menunjukan gejala layu mendadak. Pada tanaman yang tua gejala
layu pertama akan tampak pada bagian bawah tanaman (daun-daun tua). Namun
apabila penyakit terdapat pada tanaman yang muda gejala dimulai dari pucuk atau
daun-daun bagian atas.
b. Serangan
berat dapat menyebabkan matinya tanaman secara mendadak.
c. Apabila
batang tanaman yang sakit dipotong melintang, dan dicelupkan kedalam air
jernih, akan mengeluarkan cairan keruh yang merupakan koloni bakteri.
Ø
Pengendalian penyakit layu bakteri dapat
dilakukan dengan cara sebagai berikut:
a.
Menyemprot tanaman
menggunakan Agrept 20 WP atau Agrimycin 15/1,5 WP.
b.
Lahan tanaman yang sudah
terserang penyakit ini ditebari kapur dan tidak boleh ditanami tanaman yang
bisa menjadi inang R. solanacearum
selama dua tahun sebab bakteri ini dapat bertahan di dalam tanah selama dua
tahun.
c.
Gunakan pupuk kandang yang telah masak. Pupuk kandang yang belum
masak dapat memacu perkembangan bakteri ini memalui kenaikan suhu tanah yang
disebabkan oleh proses fermentasi pupuk organik.
d.
Kurangi penggunaan urea, Kalau perlu gunakan NPK saja. Penggunaan
urea yang berlebihan akan menyebabkan tanaman sukulen dan mudah terserang
penyakit.
e.
Gunakan benih tanaman cabai yang tahan terhadap penyakit ini.
f.
Pergiliran tanaman menggunakan tanaman selain famili solanaceae
(terung-terungan).
g.
Mencabut tanaman cabai yang telah terserang penyakit layu bakteri
ini.
h.
Solarisasi dengan mulsa bening agar meningkatkan suhu sebelum masa
tanam.
i.
Pengaturan jarak tanam untuk mengurangi kelembapan.
j.
Sanitasi dengan membersihkan gulma disekitar pertanaman cabai.
2.
Penyakit Busuk Hitam Pada Kubis
Ø
Penyakit ini disebabkan oleh
bakteri Xanthomonas campestris pv.campestris . Bakteri Ini
menginfeksi banyak famili kubis termasuk kubis dan rumput liar seperti lobak
liar.
Ø
Gejala
serangan penyakit busuk hitam yang di akibatkan oleh bakteri Xanthomonas camprestis
pv.campestris diawali dengan
infeksi yang biasanya disebabkan luka ataupun bekas gigitan serangga pada pori -pori air (Hidatoda) di ujung tepi daun. Infeksi patogen tersebut
menyebabkan tepi daun berubah warna dari hijau menjadi kekuning-kuningan (klorosis) yang meluas ke berbagai bagian pelepah daun dan
akhirnya daun menjadi berwarna coklat dan rontok. Gejala lain
terdapat area kuning tidak teratur di tepi daun yang berkembang menjadi lesi
berbentuk V. Lesi “V” memiliki tepi kuning dan coklat di bagian tengah dengan
urat hitam. Dengan infeksi berat, maka daerah yang terkena akhirnya bergabung
sehingga daun tampak seperti telah tersiram air panas atau dibakar. Sebuah
penampang batang dapat mengungkapkan cincin hitam pada jaringan di mana bakteri
telah melakukan serbuan.
Ø Menurut
Rukmana (1994), pengendalian dapat dilakukan dengan pergiliran tanaman yang
bukan jenis kubis-kubisan, sehingga akan memberikan waktu yang cukup bagi
serasah dari tanaman kubis-kubisan untuk melapuk. Lalu menggunakan benih bebas
hama dan penyakit yang dihasilkan di iklim yang kering. Hindari untuk bekerja
di lahan saat daun tanaman basah. Tanamlah varietas kubis yang tahan terhadap
busuk hitam. Penyemprotan bakterisida Kocide 77 WP sangat dianjurkan, terutama
untuk budidaya di musim penghujan. Tanaman dan daun sakit dipendam dalam tanah.
Menutup tanah dengan jerami untuk mengurangi penyakit. Perlakuan benih dengan
cara merendam benih dalam air hangat bersuhu 52ºC selama 30 menit. Tanaman yang
terserang bakteri busuk hitam dicabut dan dimusnahkan. Dalam pemanenan kubis
diikutsertakan dua helai daun hijau untuk melindungi krop. Pemanenan harus
dilakukan dengan hati-hati, agar tidak terjadi luka. Daun-daun yang terinfeksi
dikumpulkan untuk dimusnahkan (Soeroto,1994).
3.
Penyakit
Hawar Daun Tanaman Padi
Ø Penyakit
ini disebabkan oleh bakteri Xanthomonas
oryzae. Penyakit ini menyerang tanaman padi. bakteri ini menyerang pada
bagian daun padi. Kerugian yang ditimbulkan sangatlah nyata, penurunan produksi
yang diakibatkannya mencapai 50%.
Ø Serangan
penyakit ini dimulai dengan gejala bercak kuning sampai putih berawal
terbentuknya garis lebam berair pada bagian tepi helaian daun. Bercak dimulai
dari salah satu atau kedua tepi helaia daun, atau pada tiap bagian helaian daun
yang rusak dan berkembang hingga menutupi seluruh bagian helaian daun.
Ø Pengendalian
penyakit hawar daun dapat dilakukan dengan pemilihan teknik budidaya yang baik
yaitu :
a. Penanaman
benih dan bibit sehat,
b. Cara
tanam, dianjurkan tanam dengan system legowo dan menggunakan system pengairan
secara berselang. System tersebut akan mengurangi kelembaban di sekitar kanopi
pertanaman, mengurangi terjadinya embun, dan air gutasi dan gesekan daun antar
tanaman sebagai media penularan pathogen.
c. Pemupukan
dengan menggunakan pupuk kalium menyebabkan tanaman menjadi lebih tahan
terhadap penyakit hawar daun.
d. Sanitasi
lingkungan, dengan cara membersihkan gulma karena dapat menjadi inang
alternative bagi bakteri serta membersihkan sisa-sisa tanaman yang terkena
penyakit.
e. Pencegahan
dengan cara mencegah terjadinya infeksi bibit melalui luka dengan tidak
melakukan pemotongan bibit dan menghindari pertanaman dari naungan.
REFERENSI
Cahyanti
Immanual. 2013. Penyakit Pada Tumbuhan. http://cahyantiimanuel.blogspot.com/2013/03/penyakit-pada-tumbuhan.html
Diakses tanggal 15 Mei 2015.
Dedek
Laksamana. 2013. Busuk Hitam Pada Kubis. http://www.petanihebat.com/2013/05/busuk-hitam-pada-kubis.html
Diakses tanggal 15 Mei 2015.
Sudir
NS. 2014. Penyakit Hawar Daun Bakteri Padi Dan Cara Pengendaliannya. http://www.artikelpadi.com/penyakit-hawar-daun-bakteri-padi-dan-cara-pengendaliannya/
Diakses tanggal 15 Mei 2015.
Vian
Fadhullah. 2013. Macam-Macam Gejala Tanaman Terserang Penyakit, Bakteri dan
Jamur.ttps://vianfadhullah.wordpress.com/2013/05/07/macam-macam-gejala-tanaman-terserang-penyakit-bakteri-dan-jamur/
Diakses tanggal 15 Mei 2015.
