Senin, 31 Agustus 2015

PENYAKIT TANAMAN YANG DISEBABKAN OLEH JAMUR, VIRUS DAN BAKTERI


TUGAS
DASAR-DASAR PERLINDUNGAN TANAMAN
“PENYAKIT TANAMAN YANG DISEBABKAN OLEH
 JAMUR, VIRUS DAN BAKTERI”




ERNA
D1A113008
AGRIBISNIS A




JURUSAN AGRIBISNIS
FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS HALU OLEO
KENDARI
2015
A.    Penyakit Yang Disebabkan Oleh Jamur
1.      Penyakit Bercak Ungu Pada Bawang Putih
Ø  Penyakit bercak ungu pada bawang putih disebabkan oleh jamur Alternaria porri.
Ø  Bawang putih yang terkena penyakit bercak ungu menunjukkan gejala-gejala, yaitu pada daunnya tampak bercak kecil, melekuk berwarna putih hingga kelabu. Jika ukurannya membesar, bercak terlihat bercincin-cincin dan warnanya agak keunguan. Tepi bercak berwarna kemerahan atau keunguan, dikelilingi oleh warna kuning yang bisa meluas ke atas atau ke bawah. Pada cuaca lembab permukaan bercak berwarna coklat sampai hitam. Ujung daun yang sakit mengering, bercak lebih banyak pada daun tua. Bisa menginfeksi sampai umbi lapis yang mengalami pembusukan mulai leher, dan mudah dikenali dari warnanya kuning sampai merah kecoklatan.
Ø  Pengendalian terhadap penyakit bercak ungu pada bawang putih dapat dilakukan dengan cara menanam bawang putih pada lahan yang mempunyai saluran air baik, melakukan rotasi tanaman, dan melakukan penyemprotan fungisida. Serta  pemupukan berimbang misal penyemprotan Poc Nasa dan Hormonik, sebagai pencegahan sebelum tanam pakai Natural Glio, penyemprotan fungisida tembaga dan zineb dianjurkan jika populasi diatas ambang ekonomi dan lebih bagus ditambah perekat-perata-pembasah Aero 810 agar dapat membasahi daun bawang yang berlilin.
2.      Penyakit Akar Gada Kubis
Ø  Penyakit akar gada disebabkan oleh jamur Plasmodiophora brassica.
Ø  Tanaman yang masih muda mungkin tidak menunjukkan gejala yang berarti saat terserang, namun ketika tanaman semakin dewasa akan mulai menunjukkan gejala klorosis atau menguning, layu selama hari-hari panas, dan pertumbuhan terhambat. Meskipun begitu, gejala-gejala ini terkadang sedikit berbeda di antara jenis tanaman yang berbeda. Jika terdapat tanaman layu pada hari-hari kering/panas dan pulih kembali di pagi hari atau setelah matahari turun atau suhu dingin, itulah pertanda awal serangan akar gada. Jika penyakit terus berlangsung, daun akan menguning dan akhirnya mati. Tanaman yang sakit jelas terhambat pertumbuhannya dibandingkan tanaman yang tidak terinfeksi. Tanaman yang sakit biasanya berada di daerah yang lembap atau basah. Ketika digali, akar menunjukkan berbagai gejala tak lazim, infeksi yang baru akan menyebabkan simpul kecil pada akar, sedangkan infeksi lebih lanjut menyebabkan bengkak panjang pada akar primer maupun lateral. Beberapa jenis tanaman, seperti lobak, tidak membentuk bengkak ketika terinfeksi, melainkan luka atau lesi cekung hitam di sepanjang permukaan akar.
Ø  Pengendalian terhadap penyakit akar gada kubis dapat dilakukan dengan cara sebagai berikut :
a.       Teliti mendapatkan benih. Hindari membeli dan menanam benih yang diduga sudah terinfeksi Plasmodiophora brassicae. Perhatikan jenis tanah. Penggunaan tanah berpasir akan lebih aman dari kemungkinan berkembangbiaknya patogen.
b.      Menjaga pH tanah agar sedikit basa (sekitar 7,1 – 7,2). Patogen Plasmodiophora berkembang pada tanah asam oleh karena itu perlu menaikkan pH tanah sehingga menjadi sedikit basa, misalnya dengan menambahkan kapur pertanian atau Kalsium (dengan takaran yang yang tepat) untuk menghambat perkembangan patogen.
c.       Kurangi pemberian pupuk kimia, terutama yang mengandung Nitrogen (seperti NPK, ZA, Urea, KNO3). Pupuk tersebut menyebabkan tanah semakin asam, dan bahkan melemahkan daya tahan tanaman karena tanaman menjadi terlalu banyak mengandung gas.
d.      Lakukan rotasi tanaman mengurangi berkembangnya patogen di lahan yang sudah terinfeksi.
3.      Penyakit Akar Putih Pada Tanaman Karet
Ø  Penyebabnya adalah cendawan yang bernaman Rigidoporus lignosus. Cendawan ini menyerang tanamann karet.
Ø  Gejala yang bisa diamati adalah tanaman yang terserang warna daunnya menjadi pucat, ranting-ranting ujungnya mati, dan kadang-kadang tanaman muda yang teserang berbunga lebih awal. Akar tanaman yang terserang terdapat hifa cendawan yang berwarna putih. Penularan penyakit akar putih terjadi melalui persinggungan antara akar karet dengan sisa-sisa akar tanaman lama.
Ø  Berdasarkan Disbun Kuansing (2010) beberapa cara yang dapat dilakukan dalam pengendalian jamur akar putih diantaranya yaitu:
a.       Menanam tanaman penutup tanah jenis kacang-kacangan, minimal satu tahun lebih awal dari penanaman karet.
b.      Sebelum penanaman, lubang tanam ditaburi biakan jamur Trichoderma harzianum yang dicampur dengan kompos sebanyak 200 gr/lubang tanam (1 kg T. Harzianum dicampur dengan 50 kg kompos/pupuk kandang).
Sementara itu untuk pengendalian pada areal yang sudah terserang jamur akar putih dapat dilakukan dengan cara:
a.       Pada serangan ringan masih dapat diselamatkkan dengan cara membuka perakaran, dengan membuat lubang tanam 30 cm disekitar leher akar dengan kedalaman sesuai serangan jamur.
b.      Permukaan akar yang ditumbuhi jamur dikerok dengan alat yang tidak melukai akar. Bagian akar yang busuk dipotong dan dibakar. Bekas kerokan dan potongan diberi ter kemudian seluruh permukaan akar dioles dengan fungisida yang direkomendasikan.
c.       Setelah luka mengering, seluruh perakaran ditutup kembali dengan tanah.
d.      Tempat tanaman di sekitar tanaman yang sakit ditaburi dengan T. Harzianum dan pupuk.
e.       Tanaman yang telah diobati diperiksa kembali 6 bulan setelah pengolesan dengan membuka perakaran, apabila masih terdapat benang jamur maka dikerok dan dioles dengan fungisida kembali.
f.       Pengolesan dan penyiraman akar dengan fungsida dilakukan setiap 6 bulan sampai tanaman sehat.
g.      Tanaman yang terserang berat atau telah mati/tumbang harus segera dibongkar, bagian pangkal batang dan akarnya dikubur diluar areal pertanaman, menggunakan wadah agar tanah yang terikut tidak tercecer di dalam kebun.
h.      Bekas lubang dan 4 tanaman di sekitarnya ditaburi 200 gram campuran Trichoderma sp. dengan pupuk kandang 200 gr per lubang atau tanaman.

B.     Penyakit Yang Disebabkan Oleh Virus
1.      Penyakit Tungro Pada Tanaman Padi
Ø  Penyakit tungro disebabkan oleh virus Penyakit tungro disebabkan oleh dua jenis virus yang berbeda yaitu virus bentuk batang Rice Tungro Bacilliform Virus (RTBV) dan virus bentuk bulat Rice Tungro Spherical Virus (RTSV). Kedua jenis virus tersebut tidak memiliki kekerabatan serologi dan dapat menginfeksi tanaman secara bersama-sama. Virus tungro hanya ditularkan oleh wereng hijau (sebagai vektor) tidak terjadi multiplikasi dalam tubuh wereng dan tidak terbawa pada keturunananya.
Ø  Penyakit tungro menyerang tanaman padi tepatnya pada bagian daun padi. Intensitas serangan bergantung pada tingkat ketahanan varietas padi dan umur tanaman pada saat terinfeksi. Gejala-gejala yang tampak secara morfologis tanaman padi yang tertular virus tungro menjadi kerdil, daun berwarna kuning sampai kuning jingga disertai bercak-bercak berwarna coklat. Perubahan warna daun di mulai dari ujung, meluas ke bagian pangkal. Jumlah anakan sedikit dan sebagian besar gabah hampa. Infeksi virus tungro juga menurunkan jumlah malai per rumpun, malai pendek sehingga jumlah gabah per malai rendah. Serangan yang terjadi pada tanaman yang telah mengeluarkan malai umumnya tidak menimbulkan kerusakan fatal.Gejala penyakit tersebar mengelompok, hamparan tanaman padi terlihat seperti bergelombang karena adanya perbedaan tinggi tanaman antara tanaman sehat dan yang terinfeksi.
Ø  Pengendalian dapat dilakukan dengan berbagai cara berikut :
a.       Waktu tanam tepat Singgang merupakan sumber inokulum virus tungro. Agar terhindar dari infeksi virus yang berasal dari singgang, maka persemaian dilakukan paling tidak 5 (lima) hari setelah pengolahan tanah selesai dan tidak ada lagi singgang. Tanam diupayakan seawal mungkin sehingga pada saat populasi wereng hijau mencapai puncak, tanaman padi sudah berumur > 60 hst dan lebih tahan tungro. Waktu tanam yang tepat dapat ditentukan dengan memperhatikan fluktuasi populasi wereng daun hijau dan keberadaan tungro tahunan. Waktu tanam yang tepat adalah saat tanam yang dapat menghindarkan tanaman pada saat fase rentan (≤ 30 hst) tidak bertepatan dengan tekanan tungro tinggi (populasi wereng hijau dan keberadaan gejala tungro tinggi).
b.      Bibit sehat, jangan memindahkan/menggunakan bibit dari daerah endemis tungro.
c.       Tanam serentak, untuk membatasi keberadaan umur tanaman yang rentan terhadap perkembangan dan penularan virus tungro dilakukan upaya tanam serentak pada hamparan seluas-luasnya/unit hamparan pengairan.
d.      Melakukan pergiliran tanaman dengan tanaman bukan padi/bukan inang virus tungro.
e.       Penggunaan varietas tahan sesuai dengan keadaan setempat. Varietas tahan virus tungro: Tukad Petanu, Tukad Unda, Tukad Balian, Kalimas, dan Bondoyudo, serta varietas agak tahan virus tungro seperti Inpari 8 dan Inpari 9.
f.       Pergiliran varietas tahan, penanaman varietas tahan yang sama secara terus menerus di areal yang luas akan memberikan tekanan seleksi yang tinggi bagi vektor dan virus. Hal ini akan memunculkan strain/koloni baru yang dapat mematahkan varietas tahan. Wereng hijau dikenal cepat beradaptasi terhadap varietas tahan, dengan demikian pergiliran varietas dapat mencegah atau menunda munculnya strain/koloni baru.
g.      Sanitasi dan eradikasi. Eradikasi dilakukan dengan cara pengolahan tanah dan pembenaman sumber tungro, untuk menghilangkan atau menekan jumlah sumber tungro dan sekaligus menekan terjadinya penularan virus tungro lebih lanjut. Sanitasi dilakukan dengan cara mencabut dan membenamkan tanaman terserang, turiang/singgang dan rumput yang menjadi inang.
h.      Pengendalian vektor di daerah endemis tungro dengan aplikasi insektisida butiran 6 kg/500 m2 sehari sebelum sebar benih. Apabila diperlukan di pertanaman dilakukan aplikasi insektisida sehari sebelum tanam dengan dosis sesuai anjuran. Aplikasi insektisida di persemaian dapat juga dilakukan apabila nilai indeks tekanan tungro > 75, dan pada pertanaman apabila saat berumur <3 mst ditemukan 2 rumpun tanaman terserang tungro per 100 rumpun, disamping terus dilakukan sanitasi terhadap tanaman sakit.
2.      Penyakit Degenerasi Floem Pada Tanaman Jeruk
Ø  Penyebab penyakit degenerasi floem pada tanaman jeruk adalah virus CVPD (Citrus Vein Phloem Degeneration). Virus ini menginfeksi bagian batang, daun, dan buah.
Ø  Gejala luar yang tampak, daun menjadi kuning pada sebagian atau seluruh tajuk. Daun kuning ini kelihatan lebih kaku dan berdiri tegak. Tulang daun yang halus berwarna gelap, sehingga kontras dengan lamina daun yang berwarna kuning. Gejala luar ini mirip dengan gejala defisiensi hara Zn. Gejala dalam yaitu Jaringan floem tampak lebih tebal, karena adanya pengempisan pembuluh tapis dalam floem tersebut, yaitu berupa jalur-jalur putih. Bila diberi pewarna KI (Kalum Iodida) akan terlihat adanya akumulasi.
Ø  Pengendalian dapat dilakukan dengan menerapkan hal-hal berikut :
a.       Bibit Berlabel Bebas Penyakit
*      Bebas patogen sistemik seperti CVPD dan Virus Tristeza
*      Terjamin kemurnian varietas batang atas dan batang bawahnya
*      Proses produksi berdasarkan program sertifikasi benih yang berlaku
b.      Pengendalian Vektor CVPD :
*      Pengendalian dilaksanakan berdasarkan monitoring dengan menggunakan perangkap kuning
*      Dilaksanakan terutama pada saat pertanaman mulai bersemi/bertunas baru
*      Penyemprotan dengan pestisida yang diijinkan yaitu : Confidor 200 SL, Curacron 500 EC, Matador 25 EC, Perfekthion 400 EC
*      Penggunaan musuh alami diantarqanya : Predator Curinus coeruleus, Jamur Metarrhizium anisopliae, Jamur Hirsutella cetriformis, Jamur Verticillium
c.       Sanitasi / Eradikasi diantaranya :
*      Memangkas ranting yang menunjukan gejala CVPD
*      Membongkar tanaman yang terserang CVPD
*      Tanaman yang dibongkar disulam dengan bibit berlabel bebas penyakit
d.      Pemeliharaan / Perawatan Tanaman Secara Optimal, diantaranya :
*      Pemupukan berimbang
*      Penyiraman
*      Pengendalian gulma dan pengolahan tanah
*      Penjarangan buah
*      Pemangkasan pemeliharaan

3.      Penyakit Mosaik Pada Tanaman Tembakau
Ø  Penyakit mosaic disebabkan oleh pathogen Tobacco Mosaic Virus (TMV). TMV mudah sekali menular secara mekanik dengan kontak (sentuhan) melalui tangan para pekerja yang melakukan kegiatan budidaya tanaman. Virus dapat bertahan pada tembakau kering, dalam tanah, dan pada tanaman lain selain tembakau (misalnya pada tomat, terung, cabai, dll.)
Ø  Gejala yang tampak pada tanaman yang terserang TMV yaitu daun tanaman yang terserang menjadi berwarna belang hijau muda sampai hijau tua. Ukuran daun relatif lebih kecil dibandingkan dengan ukuran daun normal. Jika menyerang tanaman muda, pertumbuhan tanaman terhambat dan akhirnya kerdil. Gejala yang timbul sangat dipengaruhi oleh suhu, penyinaran, umur tanaman, kultivar/varietas tanaman, serta strain virus. Secara umum gejala yang timbul dapat dikelompokkan :
a.       Gejala mosaik dan mottle pada daun (pada musim panas di rumah kaca) warna belang bercampur lebih dari satu warna. Mosaik pada daun biasanya berwarna pucat atau kekuning-kuningan yang menyebar berupa percikan-percikan. Pada kondisi intensitas rendah dan suhu rendah terjadi gejala kerdil dan malformasi daun (fern-leaf) dimana adanya perubahan bentuk menjadi tidak sempurna atau tidak normal pada daun dan buah.
b.      Gejala klorosis berupa warna pucat, baik pucat yang menyeluruh maupun hanya berupa bercak saja
c.       Gejala vein-clearing : warna pucat pada urat daun sehingga urat daun kelihatan transparan dan berkilau diantara warna daun yang hijau.
d.      Gejala nekrotik : kematian jaringan, biasanya terjadi pada urat daun, batang berupa garis-garis coklat, bercak pada daun atau bercak cekung nekrotik pada buah, dan kematian pada titik tumbuh.
Ø  Beberapa cara pengendalian penyakit mosaik antara lain :
Menggunakan bibit tanaman yang sehat (tidak mengandung virus) atau bukan berasal dari daerah terserang,
a.       Eradikasi tanaman sakit, yaitu tanaman yang menunjukkan gejala segera dicabut dan dimusnahkan supaya tidak menjadi sumber penularan ke tanaman lain yang sehat,
b.      Penanganan bibit secara hati-hati agar tidak bersentuhan satu sama lain,
c.       Menghindari menanam tomat pada lahan yang sama untuk jangka waktu minimum 7 bulan,
d.      Benih dapat dibebaskan dari kontaminasi virus dengan cara merendam benih dalam larutan 10 % (w/v), Na3 PO4 selama 20 menit,
e.       Perlakuan benih dengan pemanasan (heat treatment) pada suhu 70o C selama 2 – 4 hari dapat mengeradikasi virus yang terbawa dalam endosperm.

C.    Penyakit Yang Disebabkan Oleh Bakteri
1.      Layu Bakteri Pada Tanaman Cabai
Ø  Penyakit layu bakteri pada tanaman cabai disebabkan oleh bakteri Ralstonia solanacearum. Serangan penyakit ini ditandai dengan layunya tanaman seperti bekas tersiram air panas. Penyakit ini mempunyai kisaran inang yang luas seperti inang utamanya Solanaceae, Musaceae, Kentang, Zingeberaceae, dan Arbei.
Ø  Gejala penyakit layu bakteri adalah sebagai berikut :
a.       Tanaman yang terserang menunjukan gejala layu mendadak. Pada tanaman yang tua gejala layu pertama akan tampak pada bagian bawah tanaman (daun-daun tua). Namun apabila penyakit terdapat pada tanaman yang muda gejala dimulai dari pucuk atau daun-daun bagian atas.
b.      Serangan berat dapat menyebabkan matinya tanaman secara mendadak.
c.       Apabila batang tanaman yang sakit dipotong melintang, dan dicelupkan kedalam air jernih, akan mengeluarkan cairan keruh yang merupakan koloni bakteri.
Ø  Pengendalian penyakit layu bakteri dapat dilakukan dengan cara sebagai berikut:
a.       Menyemprot tanaman menggunakan Agrept 20 WP atau Agrimycin 15/1,5 WP.
b.      Lahan tanaman yang sudah terserang penyakit ini ditebari kapur dan tidak boleh ditanami tanaman yang bisa menjadi inang  R. solanacearum selama dua tahun sebab bakteri ini dapat bertahan di dalam tanah selama dua tahun.
c.       Gunakan pupuk kandang yang telah masak. Pupuk kandang yang belum masak dapat memacu perkembangan bakteri ini memalui kenaikan suhu tanah yang disebabkan oleh proses fermentasi pupuk organik.
d.      Kurangi penggunaan urea, Kalau perlu gunakan NPK saja. Penggunaan urea yang berlebihan akan menyebabkan tanaman sukulen dan mudah terserang penyakit.
e.       Gunakan benih tanaman cabai yang tahan terhadap penyakit ini.
f.       Pergiliran tanaman menggunakan tanaman selain famili solanaceae (terung-terungan).
g.      Mencabut tanaman cabai yang telah terserang penyakit layu bakteri ini.
h.      Solarisasi dengan mulsa bening agar meningkatkan suhu sebelum masa tanam.
i.        Pengaturan jarak tanam untuk mengurangi kelembapan.
j.        Sanitasi dengan membersihkan gulma disekitar pertanaman cabai.
2.      Penyakit Busuk Hitam Pada Kubis
Ø  Penyakit ini disebabkan oleh bakteri Xanthomonas campestris pv.campestris . Bakteri Ini menginfeksi banyak famili kubis termasuk kubis dan rumput liar seperti lobak liar.

Ø  Gejala serangan penyakit busuk hitam yang di akibatkan oleh bakteri Xanthomonas camprestis pv.campestris diawali dengan infeksi yang biasanya disebabkan luka ataupun bekas gigitan serangga pada pori -pori air (Hidatoda) di ujung tepi daun. Infeksi patogen tersebut menyebabkan tepi daun berubah warna dari hijau menjadi kekuning-kuningan (klorosis) yang meluas ke berbagai bagian pelepah daun dan akhirnya daun menjadi berwarna coklat dan rontok. Gejala lain terdapat area kuning tidak teratur di tepi daun yang berkembang menjadi lesi berbentuk V. Lesi “V” memiliki tepi kuning dan coklat di bagian tengah dengan urat hitam. Dengan infeksi berat, maka daerah yang terkena akhirnya bergabung sehingga daun tampak seperti telah tersiram air panas atau dibakar. Sebuah penampang batang dapat mengungkapkan cincin hitam pada jaringan di mana bakteri telah melakukan serbuan.
Ø  Menurut Rukmana (1994), pengendalian dapat dilakukan dengan pergiliran tanaman yang bukan jenis kubis-kubisan, sehingga akan memberikan waktu yang cukup bagi serasah dari tanaman kubis-kubisan untuk melapuk. Lalu menggunakan benih bebas hama dan penyakit yang dihasilkan di iklim yang kering. Hindari untuk bekerja di lahan saat daun tanaman basah. Tanamlah varietas kubis yang tahan terhadap busuk hitam. Penyemprotan bakterisida Kocide 77 WP sangat dianjurkan, terutama untuk budidaya di musim penghujan. Tanaman dan daun sakit dipendam dalam tanah. Menutup tanah dengan jerami untuk mengurangi penyakit. Perlakuan benih dengan cara merendam benih dalam air hangat bersuhu 52ºC selama 30 menit. Tanaman yang terserang bakteri busuk hitam dicabut dan dimusnahkan. Dalam pemanenan kubis diikutsertakan dua helai daun hijau untuk melindungi krop. Pemanenan harus dilakukan dengan hati-hati, agar tidak terjadi luka. Daun-daun yang terinfeksi dikumpulkan untuk dimusnahkan (Soeroto,1994).
3.      Penyakit Hawar Daun Tanaman Padi
Ø  Penyakit ini disebabkan oleh bakteri Xanthomonas oryzae. Penyakit ini menyerang tanaman padi. bakteri ini menyerang pada bagian daun padi. Kerugian yang ditimbulkan sangatlah nyata, penurunan produksi yang diakibatkannya mencapai 50%.
Ø  Serangan penyakit ini dimulai dengan gejala bercak kuning sampai putih berawal terbentuknya garis lebam berair pada bagian tepi helaian daun. Bercak dimulai dari salah satu atau kedua tepi helaia daun, atau pada tiap bagian helaian daun yang rusak dan berkembang hingga menutupi seluruh bagian helaian daun.
Ø  Pengendalian penyakit hawar daun dapat dilakukan dengan pemilihan teknik budidaya yang baik yaitu :
a.       Penanaman benih dan bibit sehat,
b.      Cara tanam, dianjurkan tanam dengan system legowo dan menggunakan system pengairan secara berselang. System tersebut akan mengurangi kelembaban di sekitar kanopi pertanaman, mengurangi terjadinya embun, dan air gutasi dan gesekan daun antar tanaman sebagai media penularan pathogen.
c.       Pemupukan dengan menggunakan pupuk kalium menyebabkan tanaman menjadi lebih tahan terhadap penyakit hawar daun.
d.      Sanitasi lingkungan, dengan cara membersihkan gulma karena dapat menjadi inang alternative bagi bakteri serta membersihkan sisa-sisa tanaman yang terkena penyakit.
e.       Pencegahan dengan cara mencegah terjadinya infeksi bibit melalui luka dengan tidak melakukan pemotongan bibit dan menghindari pertanaman dari naungan.


REFERENSI
Cahyanti Immanual. 2013. Penyakit Pada Tumbuhan. http://cahyantiimanuel.blogspot.com/2013/03/penyakit-pada-tumbuhan.html Diakses tanggal 15 Mei 2015.
Dedek Laksamana. 2013. Busuk Hitam Pada Kubis. http://www.petanihebat.com/2013/05/busuk-hitam-pada-kubis.html Diakses tanggal 15 Mei 2015.
Sudir NS. 2014. Penyakit Hawar Daun Bakteri Padi Dan Cara Pengendaliannya. http://www.artikelpadi.com/penyakit-hawar-daun-bakteri-padi-dan-cara-pengendaliannya/ Diakses tanggal 15 Mei 2015.
Vian Fadhullah. 2013. Macam-Macam Gejala Tanaman Terserang Penyakit, Bakteri dan Jamur.ttps://vianfadhullah.wordpress.com/2013/05/07/macam-macam-gejala-tanaman-terserang-penyakit-bakteri-dan-jamur/ Diakses tanggal 15 Mei 2015.